“Kebahagian Orang Fasih Semu”

(Mazmur 37:1-9)

 

                “Orang Fasik” ialah orang yang melakukan perbuatan yang bertentangan dan melanggar persekutuan dan kesetiaan kepada Jemaat misalnya orang yang berkanjang dalam dosa (Iri hati, dll).

Mattew Henry menganggap bahwa “Orang Fasik” menunjuk kepada orang yang membuang rasa takut kepada Allah dan hidup dalam pengabaian kewajibannya terhadap Dia. Memberontak secara terbuka terhadap Allah, dan melayani dosa dan setan.

Banyak orang mengatakan “Aneh ya kenapa sih oranya yang jahat sepertinya hidupnya lebih senang dari orang baik. Sepertinya kalau mau sukses atau kaya kita memang harus berbuat jahat kali”. Kenapa banyak orang bisa ngomong seperti itu? karena fakta berbicara, orang baik banyak yang hidupnya susah, tetapi kebalikannya, banyak orang yang sudah ketahuan jahat tetapi sepertinya hidupnya kelihatan senang.

Disatu sisi, mengikut Tuhan dengan setia tetapi harus mengalami penderitaan, entah karena penyakit atau pergumulan berat lainnya. Mengikut Yesus malah kena penyakit, tetapi orang yang hidupnya bebas seenaknya, mabuk-mabukan, berjudi, suka ngomongin orang, kelakuan hidupnya tidak mencerminkan kebenaran dan hidupnya malah makmur dan sehat-sehat saja. Sepertinya Tuhan tidak memperdulikan dan menghukum mereka. Tetapi apa benar Tuhan membiarkan orang baik menderita dan membebaskan orang yang jahat? Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai umat Allah menghadapi situasi ini? kita akan melihatnya dari Mazmur 37.

Daud menulis Mazmur ini menjelang akhir hidupnya. Kemungkinan besar dia telah melihat bagaimana keadaan yang berlangsung dimasa dia hidup dimana ada banyak orang-orang jahat yang hidupnya tenang seperti terbebas dari hukuman sementara ada begitu banyak orang khususnya rakyat yang mengalami ketidakadilan akibat kejahatan mereka.

Didalam mazmurnya, pertama-tama ia memberikan satu dorongan bagi mereka yang hidupnya ditengah-tengah orang yang jahat tetapi hidupnya penuh dengan kemakmuran, yakni dengan perintah jangan gusar. Ya, jangan kita menjadi gusar ketika kita mendapati ada orang yang kelakuannya jahat tetapi hidupnya sejahtera secara fisik. Sepertinya memang keadaan tersebut terkesan tidak adil tetapi Daud berkata, “Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang”.

Jika kita perhatikan ada 3(tiga) kali peringatan “Jangan Marah” yang ditulis oleh Daud di Mazmur ini. (yaitu pada ayat 1, 7 dan 8). Mengapa ?.. Karena itu menunjukkan betapa pentingnya “Jangan Marah” tersebut bagi kita. Jika kita membiarkan rasa amarah dalam diri kita terus bertumbuh, maka itu akan menjadi kebencian, keinginan untuk membalas dan menghakimi. Dan harus kita ketahui bersama bahwa hal-hal tersebut tidak berkenan kepada Allah. Maka firman Tuhan dengan tegas dan berulang berkata “Jangan Panas”, “Jangan Terpancing” kalau ada orang yang berbuat jahat tapi masih bisa hidup enak. Bolehlah kesal atau marah sesekali tetapi jangan sampai kekesalan/kemarahan itu menguasai kita sehingga kita melakukan dosa.

Marilah kita berpegang pada Firman Tuhan, “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah

kejahatan itu dengan kebaikan” (Roma 12:21). Amin Imanuel.